LIVE

SCORE

PASARAN

BERITA

Kutukan Nomor 9 di AC Milan: Mitos yang Membayangi Para Striker

3 Maret 2026 pukul 13.25

Kutukan Nomor 9 di AC Milan: Mitos yang Membayangi Para Striker

Kutukan Nomor 9 di AC Milan: Mitos yang Membayangi Para Striker

Dalam sepak bola, nomor punggung terkadang memiliki beban yang jauh lebih besar daripada sekadar angka. Di AC Milan, salah satu contoh paling terkenal adalah nomor 9. Selama bertahun-tahun, nomor yang identik dengan seorang penyerang tengah itu dianggap seperti "terkutuk" karena sederet striker yang mengenakannya gagal memenuhi ekspektasi besar publik San Siro.

Cerita tersebut bermula setelah berakhirnya era Filippo Inzaghi.

Inzaghi bukan sekadar pemilik nomor 9. Ia adalah salah satu penyerang paling ikonik dalam sejarah Rossoneri. AC Milan mencatat sang striker mengakhiri kariernya di klub dengan 126 gol dari 300 penampilan resmi, sekaligus memenangkan berbagai trofi termasuk dua Liga Champions dan dua gelar Serie A.

Salah satu momen yang paling melekat tentu final Liga Champions 2007 di Athena. Menghadapi Liverpool, Inzaghi mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 yang membawa Milan meraih trofi European Cup/Liga Champions ketujuh mereka.

Ketika Inzaghi meninggalkan Milan pada 2012, nomor 9 pun kehilangan sosok pemiliknya.

Sejak saat itulah mitos mulai terbentuk.

Alexandre Pato menjadi salah satu pemain yang sempat mengenakan nomor tersebut setelah era Inzaghi. Harapan terhadap penyerang Brasil itu sebenarnya sangat tinggi, tetapi masalah cedera terus mengganggu perjalanannya. Setelah itu, nomor 9 berpindah dari satu striker ke striker lainnya.

Nama-nama seperti Alessandro Matri, Fernando Torres, Mattia Destro, Luiz Adriano, Gianluca Lapadula, André Silva, Gonzalo Higuaín hingga Krzysztof Piątek pernah menjadi bagian dari pembicaraan mengenai "kutukan" tersebut. Sebagian datang dengan reputasi besar, sementara lainnya dianggap sebagai calon mesin gol masa depan. Namun tidak ada yang benar-benar mampu memberikan jejak seperti Inzaghi.

Fernando Torres adalah salah satu contoh yang paling menarik.

Ia datang dengan nama besar setelah pernah menjadi salah satu striker paling berbahaya di Eropa. Namun periode bersama Milan berlangsung singkat dan tidak mampu mengembalikan ketajaman terbaiknya.

Cerita serupa kembali muncul bersama Gonzalo Higuaín.

Ketika striker Argentina tersebut mengenakan nomor 9, ekspektasi langsung melambung. Pengalamannya bersama Real Madrid, Napoli dan Juventus membuat banyak pendukung berharap Milan akhirnya menemukan pewaris Inzaghi.

Kenyataannya, perjalanan Higuaín bersama Rossoneri tidak berlangsung lama.

Kemudian muncul Krzysztof Piątek. Penyerang asal Polandia itu sempat tampil sangat tajam ketika pertama kali datang ke Milan dan awalnya menggunakan nomor 19. Memasuki musim berikutnya, Piątek beralih menggunakan nomor 9.

Di situlah cerita mengenai kutukan kembali terdengar semakin keras.

Performa Piątek menurun dan pada paruh pertama Serie A 2019/20 ia hanya mencetak empat gol liga sebelum meninggalkan klub.

Tentu saja tidak masuk akal apabila sebuah angka dianggap menjadi penyebab seorang penyerang kehilangan ketajaman.

Ada banyak penjelasan yang jauh lebih rasional.

AC Milan pada periode setelah Inzaghi juga sedang mengalami perubahan besar. Klub berganti pelatih, pemain, kepemilikan hingga arah proyek olahraga. Para striker yang datang tidak selalu berada dalam lingkungan tim yang stabil.

Tekanan juga memainkan peran.

Setiap pemain yang mengenakan nomor 9 otomatis dibandingkan dengan Inzaghi. Ketika beberapa pertandingan berlalu tanpa gol, media dan suporter kembali mengangkat cerita mengenai kutukan.

Semakin sering dibicarakan, semakin besar pula beban psikologisnya.

Kemudian datang Olivier Giroud pada 2021.

Penyerang Prancis tersebut memilih nomor 9 meskipun cerita mengenai kutukan sudah terkenal. Alih-alih menghindarinya, Giroud justru perlahan mengubah narasi.

Pada musim pertamanya di Serie A, ia mencetak 11 gol dan menjadi pencetak gol terbanyak Milan di liga bersama Rafael Leão. Gol-golnya ikut membantu Rossoneri memenangkan Scudetto 2021/22.

Giroud bahkan mencetak dua gol pada laga terakhir melawan Sassuolo ketika Milan memastikan gelar liga.

Musim berikutnya, produktivitasnya meningkat menjadi 13 gol Serie A. AC Milan sendiri menyebut Giroud sebagai nomor 9 mereka ketika membahas kontribusi sang striker sepanjang musim 2022/23.

Sejak saat itu, banyak orang menganggap kutukan nomor 9 akhirnya berhasil dipatahkan.

Namun sebenarnya, mungkin sejak awal tidak pernah ada kutukan.

Nomor 9 Milan menjadi menakutkan karena bayangan Filippo Inzaghi begitu besar. Setiap striker setelah dirinya tidak hanya dituntut mencetak gol, tetapi secara tidak langsung harus hidup di bawah standar seorang pemain yang mencetak ratusan gol dan menjadi pahlawan di final Liga Champions.

Giroud berhasil karena ia tidak mencoba menjadi Inzaghi.

Ia membangun ceritanya sendiri.

Itulah yang membuat mitos nomor 9 AC Milan menarik. Kutukannya mungkin tidak pernah nyata, tetapi tekanan yang menyertainya benar-benar ada.

Dan di klub sebesar AC Milan, terkadang sebuah angka di belakang jersey bisa terasa jauh lebih berat daripada yang terlihat.

Related Articles

Latest Update