LIVE

SCORE

PASARAN

BERITA

Kutukan Bela Guttmann: Mitos yang Menghantui SL Benfica Selama Puluhan Tahun

3 Maret 2026 pukul 20.20

Kutukan Bela Guttmann: Mitos yang Menghantui SL Benfica Selama Puluhan Tahun

Kutukan Béla Guttmann: Mitos yang Menghantui SL Benfica Selama Puluhan Tahun

Dalam sejarah sepak bola Eropa, hanya sedikit cerita yang mampu bertahan selama puluhan tahun seperti “Kutukan Béla Guttmann”. Kisah ini melekat erat dengan Benfica, raksasa Portugal yang pernah menjadi penguasa Eropa tetapi kemudian berulang kali mengalami kegagalan menyakitkan ketika mencapai pertandingan final kompetisi kontinental.

Nama Béla Guttmann sendiri bukan sosok sembarangan. Pelatih asal Hungaria itu menjadi salah satu tokoh terpenting dalam periode keemasan Benfica. Bersama Guttmann, Benfica berhasil menjuarai European Cup—cikal bakal Liga Champions—dua musim berturut-turut, termasuk keberhasilan mempertahankan gelar pada 1962. FIFA bahkan mengenangnya sebagai pelatih pemenang besar yang namanya kemudian identik dengan cerita “kutukan” Benfica.

Masalah bermula setelah keberhasilan tersebut.

Versi cerita yang paling terkenal menyebut Guttmann meminta peningkatan penghargaan finansial setelah membawa Benfica meraih kesuksesan besar. Permintaan tersebut konon tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Hubungannya dengan klub pun berakhir, dan dari sinilah legenda mengenai kutukan mulai berkembang.

Menurut cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, Guttmann kemudian diklaim mengatakan bahwa Benfica tidak akan kembali menjadi juara Eropa selama 100 tahun setelah dirinya pergi. Namun penting dicatat bahwa kebenaran ucapan tersebut masih diperdebatkan dan bukti dokumenternya tidak sekuat popularitas ceritanya.

Anehnya, perjalanan Benfica setelah 1962 membuat mitos tersebut terasa semakin menyeramkan.

Benfica berulang kali berhasil mendekati trofi Eropa, tetapi selalu kandas di final. Mereka kalah di final European Cup pada 1963, 1965 dan 1968. Kesialan berlanjut dalam final UEFA Cup 1983, lalu kembali terjadi di European Cup 1988 dan 1990. Pada era modern, Benfica juga tumbang pada final Europa League 2013 dan 2014. Secara keseluruhan, delapan final senior Eropa setelah keberhasilan 1962 berakhir tanpa gelar.

Deretan kegagalan itulah yang membuat cerita mengenai Guttmann sulit menghilang.

Salah satu kisah paling terkenal terjadi menjelang final European Cup 1990. Benfica akan menghadapi AC Milan di Vienna, kota tempat Guttmann dimakamkan. Legenda klub, Eusébio, dikabarkan mendatangi makam mantan pelatihnya dan berdoa agar “kutukan” tersebut berakhir.

Hasilnya? Benfica tetap kalah.

AC Milan menang 1-0 dan kembali membuat Benfica pulang tanpa trofi Eropa. Cerita mengenai kunjungan Eusébio tersebut kemudian menjadi bagian penting dari legenda Guttmann.

Namun semakin dalam kisah ini ditelusuri, semakin menarik pula pertanyaannya: apakah kutukan tersebut benar-benar pernah diucapkan?

Sejumlah penelitian dan penelusuran sejarah justru meragukannya. Berdasarkan catatan yang dikutip dalam biografi Guttmann, tidak ditemukan bukti dokumenter kuat bahwa sang pelatih benar-benar mengucapkan kutukan 100 tahun seperti yang kemudian terkenal.

Bahkan ada fakta yang bertolak belakang.

Dalam wawancara dengan surat kabar A Bola pada April 1963, Guttmann justru disebut mengatakan bahwa Benfica memiliki tim yang bagus dan akan kembali menjadi juara Eropa. Pernyataan tersebut sangat berbeda dengan gambaran seorang mantan pelatih yang ingin melihat klubnya gagal selama satu abad.

Eusébio sendiri juga pernah membantah cerita kutukan tersebut dan menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak benar. Karena itulah, sebagian sejarawan sepak bola melihat “Kutukan Guttmann” lebih sebagai legenda yang berkembang setelah serangkaian kegagalan Benfica ketimbang sebuah ucapan autentik yang benar-benar disampaikan pada 1962.

Tetapi sepak bola memang memiliki hubungan unik dengan mitos.

Ketika sebuah tim kalah satu kali di final, itu bisa dianggap kegagalan biasa. Ketika terjadi dua atau tiga kali, orang mulai membicarakan nasib buruk. Namun ketika sebuah klub mencapai delapan final Eropa dan seluruhnya berakhir dengan kekalahan, cerita mengenai kutukan menjadi semakin sulit diabaikan oleh imajinasi para penggemar.

Benfica bahkan sempat mendapatkan sedikit “pembebasan” simbolis melalui tim mudanya. Pada 2022, Benfica U-19 menjuarai UEFA Youth League, mengakhiri penantian panjang klub untuk sebuah gelar kompetisi Eropa pada level tersebut. Meski bukan trofi senior yang dimaksud dalam legenda, kemenangan itu kembali menghidupkan perdebatan mengenai kutukan Guttmann.

Pada akhirnya, tidak ada bukti bahwa kekuatan mistis benar-benar menghalangi Benfica menjadi juara. Kekalahan dapat dijelaskan melalui lawan, kualitas permainan, tekanan, kesalahan, hingga keberuntungan yang memang menjadi bagian dari sepak bola.

Tetapi satu hal tidak terbantahkan: cerita Béla Guttmann telah menjadi salah satu legenda paling terkenal dalam sejarah sepak bola Eropa.

Entah benar-benar kutukan atau sekadar kebetulan yang luar biasa panjang, setiap kali Benfica mendekati trofi Eropa, satu nama hampir selalu kembali dibicarakan.

Béla Guttmann.

Ikuti pertandingan serta berita sepak bola menarik lainnya hanya di LiveNobar.

Related Articles

Latest Update